Mendulang Omzet Ratusan Juta Dari Bisnis Tour & Travel

15 Aug 2014

Industri pariwisata selalu menunjukkan gairah pertumbuhan setiap tahun. Seperti tak pernah sepi peminat, kini melihat orang lalu lalang bepergian menggunakan moda transportasi pesawat terbang pun sudah menjadi pemandangan lumrah.

Peningkatan daya beli masyarakat dan jumlah kalangan menengah di Indonesia membuka ceruk pasar bagi industri pariwisata untuk terus berkembang. Peluang ini dilirik sejumlah individu maupun perusahaan untuk menjajal peruntungan di bisnis agen tiketing, tur dan travel.

PT Khalifa International Business merupakan salah satu pemain yang sudah berdiri sejak tiga tahun lalu. Menonjolkan branding dengan nama Asia Wisata, perusahaan ini menebar jaring bisnis tur dan travel-nya melalui konsep kemitraan.

Karena sebelum November 2010, kami mulai menapaki karir sebagai sub agen dari sebuah perusahaan travel dan barulah di bulan kesebelas itu kami memberanikan diri untuk berdiri sendiri, ungkap Partnership Manager Asia Wisata, Agustian saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sejak saat itu hingga 2011, sambung dia, Asia Wisata sukses mencatatkan jumlah mitra sebanyak 9 franchise dan 300 sub agen. Dan dalam kurun waktu satu tahun, omzetnya mencapai Rp 11 miliar.

Tidak puas sampai disitu, perusahaan yang berbasis di Jakarta itu kian matang dalam berbisnis. Melalui ragam layanan, seperti reservasi tiket, paket tur domestik dan internasional, umrah dan haji, sampai dengan rental mobil, pihaknya mampu menutup akhir tahun lalu dengan omzet Rp 65 miliar serta penambahan basis mitra menjadi 33 franchise.

Strategi kami tentu mengembangkan sistem reservasi berbasis online. Jadi ketika sub agen dan franchise menggunakan satu user kami, bisa langsung untuk transaksi ke enam maskapai penerbangan. Sehingga tidak perlu ke website maskapai lagi, terang dia.

Lalu bagaimana caranya untuk menjadi mitra, baik sub agen maupun franchise dari Asia Wisata? Agustian mengatakan, individu maupun perusahaan yang bergabung sebagai franchise akan mendapatkan fasilitas set up dari awal, seperti legalitas perizinan usaha, line telepon, dua unit komputer, internet, mesin printer dan faximile serta 6 hari pelatihan.

Biaya kemitraan yang ditawarkan untuk franchise sebesar Rp 75 juta. Biaya itu termasuk deposit Rp 10 juta untuk mitra melakukan transaksi dengan 5 user Asia Wisata, jelasnya.

Sementara biaya kemitraan sub agen, pihaknya mematok sebesar Rp 3,5 juta. Syaratnya pun tidak sulit, cukup registrasi (lampirkan identitas diri) dan membayar biaya keagenan. Selanjutnya, mitra akan diberikan satu user yang bisa diakses dari perangkat smartphone dan komputer.

Menurut dia, bukan saja perusahaan yang diuntungkan dengan bisnis ini, tapi juga mitra. Pasalnya, berdasarkan hasil evaluasinya, mitra franchise mampu mendulang omzet tertinggi hingga Rp 360 juta per bulan. Sedangkan mitra sub agen maksimal sebesar Rp 127 juta.

Jika berhasil menjalani berbagai pelayanan dengan baik, maka mudah-mudahan dalam waktu 2 tahun modal mitra sudah bisa kembali alias Break Even Point (BEP), tukas Agustian.

Tidak puas, Asia Wisata akan terus memanfaatkan potensi industri pariwisata untuk menggapai ambisinya go internasional pada tahun 2014. Dan tahun ini, pihaknya mengincar omzet lebih dari Rp 100 miliar dengan target mitra sebanyak 132 franchise serta 4.000 sub agen di seluruh Indonesia.


TAGS


-

Author

Follow Me